Benar, kita tertipu dengan keyakinan pada
persepsi-persepsi tanpa ada korelasi material yang nyata. Demikian ini karena
kita tak pernah bisa membuktikan bahwa persepsi-persepsi yang kita tangkap
melalui otak memiliki korelasi material. Persepsi-persepsi itu bisa saja timbul
dari suatu sumber “buatan”. Kita sering mengalaminya dalam mimpi kita. Kita
seolah mengalami suatu kejadian, melihat orang-orang, benda dan susunan-susunan
yang seolah nyata. Padahal kenyataanya tidak ada, hanya persepsi-persepsi saja.
Tak ada perbedan mendasar antara mimpi dan “dunia nyata”; keduanya sama-sama dialami
dalam otak.
Apa manfa’at keta’atan pada moral Al-Qur’an bagi sistem bernegara? Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan bahwa keta’atan merupakan sifat yang positif. Seseorang yang memiliki moral Qur’ani akan sepenuhnya patuh dan hormat terhadap negaranya. Dalam masyarakat Islam, setiap orang berusaha untuk kesejahteraan negara dan bangsanya. Tidak pernah berontak terhadap negara, melainkan mendukung baik secara spiritual maupun material. Dalam masyarakat yang terbentuk dari orang-orang yang takut kepada Allah, kasus-kasus hukum tak pernah sampai ke tingkat persidangan. Seperseribunya pun dari pelanggaran hukum yang terjadi pada masyarakat sekarang ini tak pernah dialami. Mengatur negara menjadi jauh lebih mudah, karena pemerintah tidak perlu mengurus kasus-kasus anarki, terorisme, kejahatan, pembunuhan. Seluruh kekuatan pemerintah dipusatkan pada pengembangan dan peningkatan kesejahteraan negeri, di sektor dalam maupun luar negeri. Karenanya, menghasilkan negara yang sangat kuat.
Comments