Bagi manusia, mati tidak
berarti menghilang. Kematian
merupakan suatu peralihan ke kampung akhirat, tempat tinggal yang sebenarnya.
Kematian memutuskan hubungan seseorang dengan tatanan dunia, termasuk tubuhnya
yang ada dalam tatanan ini. Saat hubungan antara tubuh dan ruh terputus, yakni
setelah kematian, ruh mulai berhubungan dengan gambaran akhirat. Tabir di depan
matanya tersingkap, kemudian sadarlah ia bahwa mati bukan berarti menghilang
seperti anggapannya. Ia memulai kehidupan akhirat seperti memulai hari-harinya
saat terbangun dari tidurnya. Ia dibangkitkan dari kematian. Hal ini dinyatakan
dalam Al-Qur’an: “Dia lah yang memberi kehidupan dan menyebabkan kematian.
Jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya mengatakan, “Jadilah” maka jadilah.
(Surat Ghafir: 68) Peralihan manusia ke alam akhirat terjadi dengan sebuah
perintah Allah seperti itu.
Apa manfa’at keta’atan pada moral Al-Qur’an bagi sistem bernegara? Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan bahwa keta’atan merupakan sifat yang positif. Seseorang yang memiliki moral Qur’ani akan sepenuhnya patuh dan hormat terhadap negaranya. Dalam masyarakat Islam, setiap orang berusaha untuk kesejahteraan negara dan bangsanya. Tidak pernah berontak terhadap negara, melainkan mendukung baik secara spiritual maupun material. Dalam masyarakat yang terbentuk dari orang-orang yang takut kepada Allah, kasus-kasus hukum tak pernah sampai ke tingkat persidangan. Seperseribunya pun dari pelanggaran hukum yang terjadi pada masyarakat sekarang ini tak pernah dialami. Mengatur negara menjadi jauh lebih mudah, karena pemerintah tidak perlu mengurus kasus-kasus anarki, terorisme, kejahatan, pembunuhan. Seluruh kekuatan pemerintah dipusatkan pada pengembangan dan peningkatan kesejahteraan negeri, di sektor dalam maupun luar negeri. Karenanya, menghasilkan negara yang sangat kuat.
Comments